
Aku ingin engkau tahu masa laluku,
agar tak terulang lagi kisah lalu yang selalu membuatku sendiri,
agar engkau mengerti siapa yang hidup dalam diriku
Ketika keindahan itu mulai mengisi hari-hariku, aku tak tahu apa yang sebenarnya harus aku lakukan. Ketika sebuah cinta menyapa sebentuk asa yang tergeletak penuh debu, rindu dan kasih yang senantiasa mengiringinya.
Ketika cinta itu datang, aku berbakti atas-nya demi keagungan dan kesucian rasa. Dalam masa hidup dua puluh tiga tahun, aku menyimpan dan memelihara sebentuk cinta. Terlalu mudah memang….. Terlalu sulit untuk dimengerti. Tiada kebahagianku bila kutemukan tawa dalam kebahagiaan.
Aku bahagia, bila dia menari dalam cintanya, dalam rindunya, kubiarkan dia menebar pesona pada bunga yang lain, walaupun otu dihadapanku. Kubiarkan dia…… Ach…. Akhirnya aku mengerti itu bukan suatu pengorbanan, tapi suatu siksaan yang menimpa asaku.
Selama lebih dua puluh tiga purnama aku merasakan cinta pertamaku, tapi selama itu pula luka yang kudapatkan. Tadinya dia kuanggap mentariku yang terindah, tapi kepalsuan yang ditebarnya menutup cahayanya. Ketika ku sadar bahwa manusia punya hati untuk dibahagiakan, untuk apa menanti satu cinta darinya?. Luka itu terlalu dalam untuk aku lipur.Akhirnya semua itu membuatku merasa tersisih dalam cinta. Itu gerhana dalam cinta pertamaku.
Semua kegagalan menumbuhkan rasa benci dalam dada. Kini aku sadar, tak ada gunanya masa lalu yang kelabu ku timpahkan pada mahluk yang lain. Yang aku inginkan sekarang, sebuah mentari yang begitu indah, yang dapat menerima diiriku apa adanya.
MENU CINDY
CErItaW dIKiT


